Longsor di Perbatasan antara RT 15 Kelurahan Selumit dan RT 20 Sebengkok

TARAKAN, realitas9.com – Waspada dengan curah hujan dan gempa, empat rumah di RT 15 Kelurahan Selumit dan RT 20 Kelurahan Sebengkok terdampak tanah longsor. Musibah menimpa warga di perbatasan lingkungan kedua RT tersebut ini terjadi pada Senin (26/12/2022) sekitar pukul 08.00 Wita.

Namun, salah satu korban yang keseharianya sebagai juru parkir, hingga Selasa siang (27/12/2022) belum tersentuh bantuan.

Kondisi rumah Sabran di RT 20 Kelurahan Sebangkok nyaris roboh. Bahkan dinding belakang rumah yang terbuat dari papan kayu juga jebol.

Meskipun demikian, bapak dua anak ini enggan meninggalkan rumahnya untuk menghindari longsor susulan.

Beberapa hari sebelum kejadian, Sabran mengaku sudah merasakan ada pergerakan tanah. Sehingga dirinya selalu waspada.

Namun, pada Senin pagi, akhirnya tanah di belakang rumahnya runtuh, bahkan jalan beton juga ikut longsor.

“Itu awalnya Minggu memang sudah ada tanda-tanda. Pada Senin malam sekitar pukul 3 atau 4 pagi bunyi-bunyi, jadi saya bangunkan anak-anak dan istri untuk keluar rumah. Sekitar jam 8 pagi runtuh semua, suaranya kayak angin ribut, tetapi kami sudah berada di tempat aman,” terangnya.

Meskipun masih ada ancaman longsor susulan, namun Sabran mengaku ingin tetap bertahan dan berencana merenovasi kembali rumahnya yang nyaris roboh. 

Dirinya hanya mampu tinggal di lokasi tersebut. Karena lahan yang digunakan awalnya milik saudaranya yang telah diberikan kepadanya.

“Rencananya mau tetap di sini, saya tinggal di sini sudah 20 tahun. Kejadian longsor sudah sering di sini, sekitar 5 kali tetapi ini yang paling besar dan parah. Saat ini anak-anak saya ungsikan ke Juata, sambil menunggu renovasi rumah,” ucapnya.

Untuk memperbaiki rumahnya kembali, Sabran mengaku membutuhkan biaya sekitar Rp200 juta, untuk membeli besi, batu, dan bahan bangunan lainya. Selain dinding bagian belakang, pondasi juga rusak dan bergeser dari posisi awal. 

“Kejadian longsor pada 2005 hanya sampai dapur, tanah yang masuk sedikit, begitu pula dengan yang 2007, setelah masih ada lagi longsor sekala kecil, tetapi saya lupa tahunnya. Dan kali ini paling parah,” ujarnya.

Dia mengaku akan kembali bangun rumah tersebut, karena tidak ada tempat lagi. “Kita mau kos tetapi tidak ada dana lagi,” imbuhnya.

Sehari-hari dia hanya jadi juru parkir dengan target setoran Rp150 ribu per hari, selebihnya buat beli beras dan lainnya.

“Kalau gaji setiap bulan hanya Rp1,1 juta – Rp1,2 juta, sedangkan anak dua-duanya sekolah, SMP dan SD,” bebernya.

Sebenarnya ada lima rumah terdampak longsor. Namun satu diantaranya merupakan rumah kosong. Dan paling parah terdampak karena tertimpun material hingga pokok pohon bambu. 

“Belum ada bantuan, padahal kejadiannya kemarin. Sedangkan rumah di atas saya yang masuk di RT 15 Kelurahan Selumit mereka sudah diungsikan, dan diberi biaya kos,” ucapnya.

Sementara itu, Lurah Sebengkok Syakhril Alamsyah mengatakan, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Dinas Sosial dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah, untuk melakukan tindakan di lokasi tanah longsor.

“Untuk sementara kami sudah terima bantuan dari Dinas Sosial untuk bantuan awal, selain itu juga sudah koordinasi dengan BPBD untuk langkah penanganan. Selain di RT 20, ada juga longsor di RT 25 tetapi hanya mengenai rumah, tidak terlalu berdampak signifikan, tidak seperti yang di RT 20,” pungkasnya. (R9)

Related posts